Saturday, November 30, 2013

ini kita? Atau kamu?

Malam ini, semua tampak lebih berwarna. Semuanya tak lagi sama. Aku melihatmu bersamanya. Tampaknya, kamu sudah lebih bahagia bersamanya? bersama orang yang aku kenal dekat juga.
Aku sudah melakukan banyak hal sendirian, melatih kemandirian, dan tentunya melatih kedewasaan.
Mungkin kamu akan terkejut melihat perubahanku, kamu akan menggelengkan kepalamu lebih lama karena melihat gerak-gerikku, aku sudah berbeda sekarang. Atau boleh bilang, bukan hanya aku, kamu juga pasti sangat berbeda sekarang. Seiring waktu berjalan, semua berubah tanpa persetujuan kita. tiba-tiba aku sudah menjadi seperti ini dan kamu sudah tak lagi disini.

Akhirnya, ya emang akhirnya, karena gakan ada lagi yang terulang. Hari-hari dimana kita selalu habiskan bersama. Disebuah ruang dimana didalamnya hanya ada kita berdua. Ya,didalam sebuah komitmen tentunya.
Hari-hari yang aku dan kamu lewati seperti gelembung basah indah yang mudah pecah jika dihentakan dengan sangat keras. Realita berbicaralebih banyak, sementara aku dilarang untuk terlalu banyak bermimpi terlalu jauh. Mimpi? apa ini hanya mimpi-mimpi yang aku bawa sendiri? Tidak. Ini adalah mimpi-mimpi yang selalu kita bawa kedalam komitmen kita berdua. Tak usah lagi mengharapkan semuanya terulang kembali seperti sediakala. Karena kamu telah melakukan kesalahan itu berulang kali.

Jika dulu kita begitu manis, entah kenapa ya sekarang berubah jadi miris. Memang hanya persepsiku saja yang melebih-lebihkan segalanya, mengingat perpisahan kita terjadi tanpa sebab yang jelas. Sulit ditebak,sampai aku muak mencari-cari yang kurasa tak pernah hilang. Bahkan kata putus pun tak pernah keluar dari mulut kita masing-masing. Kau pun tak pernah berani menatap mataku saat berbohong dan kau tak berani berucap "aku tidak mencintaimu lagi"

Begitu banyak mimpi yang masih belum terwujud. Mimpi kita berdua. Kita rencanakan dengan sangat rapi dalam setiap bisikan malam. Adakan peristiwa itu tersimpan dalam ingatanmu?
Aku berusaha menerimanya, kita semakin dewasa dan semakin berubah.
Tapi, salahkan jika aku ingin kamu duduk kembali disini mendekapku sebentar dan kembali menceritakan mimpi-mimpi kita yang dulu rapuh sebelum sempat terwujud?
apakah mimpi-mimpi itu harus dirapuhkan oleh orang lain selain kita berdua?

Aku sudah berusaha untuk bernapas tanpamu, nampaknya semua berhasil dan berjalan dengan baik-baik saja. Tapi, diluar dugaanku, setiap malam-malam begini, kamu masih sering kembali dalam ingatan. Kamu masih saja berkeliaran didalam otakku. Pikiranku,dan semua cerita masih menginginkan kamu menjadi topik utamanya dan hatiku masih membiarkan kamu berdiam lama disana. Aneh memang jika aku sering memikirkan kamu yang memang kamu tak pernah memikirkanku.
Menyakitkan memang harus mendewakan kenangan hanya karena masa lalu terlalu kuat untuk dihancurkan.

Beginilah kita sekarang. Tak lagi saling bersapa. Tak lagi saling bertukar kabar. Semua seperti dulu. Seperti 3tahun silam dimana kita tidak saling kenal. Segalanya terasa asing. Kosong. Apapun yang kita lakukan seperti terhapuskan oleh waktu. Sejak saat itu juga jantung kita gak lagi mendenyutkan rasa yang sama.

Dengarkan aku, inilah kita yang sekarang, berusaha melupakan yang disebut kenangan. Berusaha melawan ketakutan yang disebebkan oleh perpisahan. Siapapun yang lebih dulu melupakan tak menjamin semuanya akan benar-benar hilang.

Aku punya kejutan untukmu, Sekarang aku sudah jadi mahasiswa di universitas yang selalu ku ceritakan padamu diakhir hari saat aku dan kamu bertukar cerita.  Aku pun punya banyak teman baru yang aku rasa bisa menghilangan rasa kegalauanku karnamu.
Adakah kejutan yang akan kau tunjukkan padaku, selain cerita tentang pacar barumu? yang sebelumnya dia teman dekatku :))